Oke, saya juga tahu kalau presiden dan wakil presiden Republik Indonesia itu adalah Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Bapak Jusuf Kalla. Tapi itu hanya secara appearance. Kenyataannya? 
Lanjut?
Nampaknya memang mental sebagian orang di Indonesia sudah rusak. Enak saja punya biaya cukup untuk pendidikan anak tapi nggak mau menyekolahkan anak!
Kalau yang menerima bantuan pendidikan memang tidak mampu, okelah. Tapi kalau ternyata yang menerimanya itu justru karena orangtua mereka tidak mau membiayai pendidikan mereka, akan jadi apa bangsa kita yang sudah hancur di mana-mana ini?!
Ada apa sebenarnya?!
By Cynanthia
|
Posted in Life, Thoughts
|
Tagged beasiswa, bodoh, BOS, budaya, Indonesia, kehidupan, kritik, masa depan, mental, opini, pemerintah, pendidikan, sarkasme, siswa, sosial, tolol
|
Based in True Remembrance visual novel.
“…this isn’t a very good answer, but… everyone’s a little different.
Some say you have to forget, or you won’t survive. Others say the opposite - that you have to remember.
I don’t think there’s one absolute right or wrong for any one person - each one of us makes a choice, somewhere, somehow. And once that choice is made - then we remember. Or we forget. It all depends…”
–Blackiris (True Remembrance, Chapter V: Good Girls Say Goodbye with a Smile)
2008 / 05 / 10 – 12:09 am
Note: Post ini agak ngaco. Meskipun begitu, saya harap Anda tidak tersinggung. 
Sebenarnya banyak sekali hasil karya bangsa Indonesia yang patut dibanggakan. Kalau kita rajin-rajin baca koran (dan lebih beruntung lagi kalau punya kerabat seorang peneliti), kita akan lihat betapa bangsa kita ini sebenarnya inovatif.
Lalu kenapa…?
Anak-anak (apalagi anak kecil), dalam batas tertentu, kelakuannya masih bisa dimaklumi.
Meskipun begitu, di mata saya, melihat anak-anak (kecil) zaman sekarang, nampaknya mereka yang terlibat dalam mengasuh anak-anak ini harus belajar lagi akan batasan-batasan tersebut. 
Kenapa gitu?
By Cynanthia
|
Posted in Diary, Life, Thoughts
|
Tagged anak-anak, bodoh, budaya, kultur, lagu, orang tua, pendidikan, sikap, sopan santun, trend
|
2008 / 05 / 01 – 12:13 pm
Dari dulu, orang-orang yang dipekerjakan oleh bapak-ibuku (baik sopir maupun pembantu) pasti ada saja yang bikin kita sekeluarga menghela napas.
Gimana nggak, pas giliran dibaikin pasti bertingkah, pas ditegur malah manyun. Ada-ada saja kelakuannya. Ntar minta berhenti, berapa bulan kemudian balik sambil nangis-nangis, minta kerjaan lagi. 
Untungnya ada satu ‘mantra’ ajaib dari almarhum Pakde saya yang bisa membuat kita menahan diri sewaktu pembantu / sopir mulai ‘kumat’. 
(WARNING: Post ini cukup panjang. Anda sudah diperingatkan.)
__
Lanjutkan…