Dari dulu, orang-orang yang dipekerjakan oleh bapak-ibuku (baik sopir maupun pembantu) pasti ada saja yang bikin kita sekeluarga menghela napas.
Gimana nggak, pas giliran dibaikin pasti bertingkah, pas ditegur malah manyun. Ada-ada saja kelakuannya. Ntar minta berhenti, berapa bulan kemudian balik sambil nangis-nangis, minta kerjaan lagi. ![]()
Untungnya ada satu ‘mantra’ ajaib dari almarhum Pakde saya yang bisa membuat kita menahan diri sewaktu pembantu / sopir mulai ‘kumat’. ![]()
(WARNING: Post ini cukup panjang. Anda sudah diperingatkan.)
__
Keluarga kami (dan juga keluarga salah satu adiknya ayah) bukan tipe orang yang suka menekan, bahkan menyiksa pembantu dan/atau sopir. Kami memperlakukan mereka dengan manusiawi, seperti saudara sendiri saja. Gaji pun selalu dikasih lebih dan tidak pernah dipotong.
Kadang orang-orang heran, kok bisa kita (lebih tepatnya ayah-ibu saya) nggak motong gaji mereka meskipun mereka nggak masuk? Ini contohnya, sewaktu ibu saya terlibat obrolan dengan temannya.
Teman Ibu: Bu Dien, itu kalau pembantunya nggak masuk nggak dipotong gajinya?
Ibu: Ya nggak lah. Kasihan. Orang kerja sama kita.
Teman Ibu: Wah, kalau saya sih pembantu nggak masuk gajinya nanti saya potong. Jadi ada gaji tetap dan gaji harian. Nanti dia nggak masuk berapa hari, gaji hariannya dipotong, tergantung berapa hari dia nggak masuk.
Ibu: . . .
Sungguh, kami perlakukan mereka dengan manusiawi. Makanan? Boleh ambil sepuasnya, nggak pakai jatah. Bahkan kalau sakit, kalau perlu, kedua orang tua saya yang membiayai pengobatannya. Mau ikut nonton TV? Boleh. Kebayang nggak, ada berapa persen sih majikan di dunia ini (terutama di Indonesia) yang sebegitu manusiawinya kepada pembantu/sopir? ![]()
Sayangnya, entah apa mereka begitu keenakan dengan kebebasan yang diberikan, mereka ujung-ujungnya jadi belagu. Kalau sudah kejadian, ibu saya hanya bisa menghela napas, berusaha agar kemarahannya tidak meledak.
(FYI, ini tidak termasuk sopir dan pembantu yang kerja di rumah sekarang. Mereka benar-benar tahu diri, jadi kita -terutama aku sama adek aku- respek sama mereka. Meskipun ada satu-dua kesalahan, bisa dimaklumi.)
__
Dari yang saya ingat, kedua orang tua saya sudah mempekerjakan pembantu sejak saya lahir (bahkan jauh sebelum kakak saya lahir). Sopir baru dipekerjakan sewaktu saya menginjak kelas 2 SD.
(Hampir) semuanya sama. Awalnya mereka baik-baik saja. Teratur. Respek (terutama sama ayah-ibu saya). Tetapi setelah beberapa bulan kerja, mulai kelihatan belagunya.
Sewaktu saya masih TK (dan adik saya baru setahun lagi akan masuk TK), pembantunya suka mengancam akan menculik kami berdua kalau kami nggak mau makan. Gimana mau makan, lha wong ada sayur dan tempe segala macam, kita berdua malah cuma dikasih nasi sama garam. Jelas aja Bude aku dulu heran kenapa kita berdua kurus banget. ![]()
__
Pembantu berikutnya lebih parah. Kebetulan nih orang saudaranya pembantu yang kerja di rumah sepupu aku (anaknya adiknya ayah aku yang kusebutkan di awal post). Awalnya sih nggak masalah, cuma lama-kelamaan jadi belagu. Yang jadi majikan tuh siapa sih?
Aku sama adik aku mau main sepeda sebentar aja nggak boleh. Ada pintu tertutup dengan bunyi keras (karena ada angin kencang), kita berdua dituduh banting pintu. Pake komputer suaranya berisik dikit, dia marah-marah. Cucian masih numpuk, pada belum disetrika, padahal udah sore (dan pada saat itu sekeluarga udah kehabisan baju bersih). Akhirnya ibu aku negur pembantu itu, dan ia pun mulai menyetrika sambil manyun.
Yang paling parah, pernah suatu ketika kita berdua lagi nyetel TV (dulu TV di rumah ada dua: buat kita sama buat pembantu/sopir di ruang belakang), nggak tahunya tuh pembantu teriak: “Khalid, Mbak Ranti, pelanin dong suaranya!”. Lalu pembantu tersebut nyetel TV di belakang dengan suara yang sangat keras.
Akhirnya, kita berdua cuma bisa manyun. Bahkan adik aku jadi sering mengacungkan jari tengahnya ke kamar belakang (kamar pembantu) saking kesalnya.
Sikapnya yang seenaknya ini nggak cuma ke kita berdua, dua anak paling kecil di rumah. Rupanya, ia juga berani melawan ke kedua orang tua aku. Puncaknya, sewaktu ia tau-tau minta berhenti kerja (nanti digantikan oleh pembantu yang sekarang), mau pulang malam itu juga. Ibu aku dengan halus bilang: “Ima, kenapa nggak bulan depan aja? Gaji kamu kan belum dibayarkan, bapak belum ada uang.”, tapi ia ngotot. Ya sudah, akhirnya ibu saya nyerah.
Brengseknya, dia nyebarin fitnah ke tetangga sekitar kalau dia selalu diperlakukan seenaknya, nggak boleh makan ini-itu. Ibu-bapak aku diam saja, tapi Bude aku (kakak dari ibu) nggak tahan, lalu bilang yang sebenarnya ke tetangga.
Ternyata, ke-kurang-ajar-an pembantu yang ini juga ada pada saudaranya (yang kerja di rumah sepupu aku). Katanya, saudara sepupu aku yang kecil suka dibikin nangis sama pembantu di rumah sepupu aku. Lalu brengseknya, katanya baju yang disetrika dan dikasih pewangi cuma punya bapaknya sepupu aku (baca: oom). Dan konon, sewaktu keluar, ia juga menyebarkan fitnah yang serupa dengan yang disebarkan oleh saudaranya (meskipun konteksnya beda).
__
Kedua sopir yang sebelumnya kerja di rumah kami juga sama belagunya. Tiap kali aku sama adik aku mau pergi ke mana (biasanya ke Gramedia) karena perlu sesuatu, mereka melakukan hal yang sama: ngeyel. Nggak mau nganterin. Bahkan sewaktu disuruh jemput Ibu di Polban, tetep aja ngeyel.
Dan yang paling parah, mobil yang lama pernah tabrakan sampai penyok gara-gara dua sopir ini nyetirnya ugal-ugalan.
__
Kini, baik pembantu maupun sopir tidak ada yang belagu. Dan kita pun jadinya respek sama mereka berdua.
Tetapi pembantu yang sekarang, entah saking ‘kreatif’nya atau pelupa, kadang-kadang hasil kerjaannya pasti tidak beres. Mulai dari cucian masih basah tapi sudah disetrika (kan jadi bau), air buat nge-pel nggak diganti sampai berhari-hari, bikin nasi goreng pakai kencur, bahkan sampai beli udang yang ternyata sudah busuk (pembantunya nggak nyadar).
Ibu saya hanya bisa menghela nafas, dengan sabar mengingatkan berulang-ulang (meskipun kadang dengan nada setengah marah). Kecuali ayah saya dalam kasus udang busuk (yang jelas-jelas baunya itu bau busuk) itu, beliau mengancam potong gaji; yang membuat pembantu di rumah saya seharian muram.
Dan suatu ketika, saat makan malam, ibu saya bilang begini:
Ibu: Kalau Ibu nggak ingat nasihatnya alm. Pakde Bambang dulu mungkin ibu sudah pecat.
Saya: Pakde Bambang?
Ibu: Iya, dulu Pakde Bambang bilang begini:
Kalau itu pembantu lebih pinter dari kamu mana mau dia kamu suruh-suruh! Mending dia cari kerjaan lain saja, ‘kan?
Dan saya cuma bisa ngakak mendengarnya. Hingga kini, kalau ibu saya mulai mau marah, saya dengan santai bilang:
“Bu, inget nasihatnya Pakde Bambang, Bu.”
8 Comments
haha, benar juga ya. Mana ada orang pinter disuruh2..
hm, aq dulu ada pembantu, n memang ‘ngelunjak’ kalo da lama, itu selalu…
tp memang ada sih 1 kale, kami rukun2 aja ampe akhirnya dia keluar karna nikah.
Sejak saat itu ampe sekarang, kami ga lagi punya pembantu.
Alasan? ya itu, susah… so, sebagai ganti, kami pake pembantu yg cuci gosok,
kerja beberapa jam, lalu pulang. So, ga ribet2 lagi kan.
” cuma dikasih nasi sama garam ”


kejam
Wah wah, pakde mu kayak ibu ku

*di injek*
Dulu kan aku gak mau sekolah
suka nyuruh2 pembantu ku ngelakuin ini itu
parahnya, trus aku dulu suka ngatain pembantu ku
trus waktu mau bobo, ibu ku selalu bilang gini
” Dek, kamu gak pengen jadi pembantu kan ? makanya sekolah. mereka tuh jadi pembantu soalnya enggak pinter. coba mereka pinter,
gak bakal mereka mau jadi pembantu. Trus tau gak, pembantu tuh ternyata lebih pinter ya daripada kamu. Bisa masak, nyuci, de el el.
Lha kamu nyalain kompor aja gak bisa. Apa itu ”
asem. kata2 terakhirnya tu lho
menancap di hatiku oohh.. *paan seh. wakkakaka*
Tapi emang sih, gara2 sejak lahir aku dah biasa pake pembantu, aku jadi gak suka bersih2. Kalopun di suruh nyapu, pasti gak bersih.
Jadi nda mandiri gitu .__. ketergantungan lah sama orang *sigh*
*psstt.. sampe skg aku ga bisa ngelipet baju dengan baek dan benar. WAKKAKA*
Motto : Tanpa pembantu, daku takkan bisa hidup!!! *di injek* wakkakakak
@DivineLight:
Haha, pembantu yg sekarang juga gitu kok. Kerja beberapa jam, ntar sore pulang. Toh kampungnya bersebelahan xD
@zazi:
Wakkakaka… geblek *injek2 Zazi*
Makanya latihan Zi, latihan!
enggak ah
toh masih ada pembantu.. GYAHAHHAHA *di gundulin rame2*
enggak enggak
wakkaka
Kalau supir angkot pintar, gak bakal jadi supir angkot
@zazi:
Belajar Zi. Kepake ato ngga itu urusan nanti. Daripada kamu nyesel.
@DensS cessario:

Wakkakak, bener…
Eh, ngga juga sih. Pekerjaan susah sekarang. Lulusan universitas aja banyak yg ujung2nya kena PHK, lalu jualan kecil-kecilan
gak salah juga kita dikatain INDON
ama tetannga sebelah , yang ke sana pembantu semua.
@room4c:
Bener.