Anak-anak (apalagi anak kecil), dalam batas tertentu, kelakuannya masih bisa dimaklumi.
Meskipun begitu, di mata saya, melihat anak-anak (kecil) zaman sekarang, nampaknya mereka yang terlibat dalam mengasuh anak-anak ini harus belajar lagi akan batasan-batasan tersebut. ![]()
Sewaktu saya menemani dua monster saudara laki-laki saya (kakak dan adik saya) mencari sepatu baru (kedua makhluk ini susahnya setengah mati kalau diajak cari kebutuhan sendiri. Meskipun saya juga sih…
), saya melihat kejadian yang cukup membuat saya menghela napas (meskipun saat itu saya cengengesan juga).
Saat itu, ada anak kecil sekitar tiga atau empat tahunan berlari-lari sambil membawa sepatu yang dipajang di toko. Nggak cuma satu-dua, kayaknya empat model sepatu yang berbeda dia borong satu per satu. Saat itu, saya sedang melihat-lihat kacamata renang sambil menunggu adik saya menemukan ukuran sepatu yang pas untuknya[1].
Dan di situlah kejadiannya. Saat itu, dia ambil dua model sepatu yang sedang dipajang. Tak tahunya, kakaknya (mungkin, atau saudaranya, yang jelas lebih tinggi dikit) datang. Entah apa yang ada di pikiran saudaranya itu.
Anak itu ambil salah satu sepatu dari tangan adiknya, lalu… dia menimpuk adiknya pakai sepatu tersebut. Secara, anak itu langsung nangis, lalu mereka dipisahkan sama orang tuanya. Ibu saya (yang tidak tahu apa yang terjadi sama anak itu) cuma geleng-geleng kepala melihat si anak menangis, lalu saya berbisik ke ibu saya: “Tadi dia ditimpuk sama kakaknya”.
*geleng-geleng kepala*
Buset, ngeliat anak jaman sekarang bisa kasar gitu kelakuannya. Nggak cuma kelakuan (macam main timpuk gitu), dari omongan, sampai apa yang mereka nyanyikan zaman sekarang, bener-bener… sarap. Mau jadi apa ya mereka kalau udah gede? Algojo? ![]()
*kembali teringat keponakan yang dulu pas masih kecilnya bandel setengah mati sampai saya disembunyikan sama keponakan saya yang lain*
[1] = Adik saya bongsor. ukuran sepatu 44 aja ngga muat = =”
12 Comments
salah bunda mengandung?
salah tayangan TV?
Atau salah orang tua yang kurang ngasih perhatian?
Nyah. Jangankan nimpuk.. kayaknya saia juga pernah ngeliat adek-kakak berantem dengan santainya di tengah-tengah Mall—saia contohnya—dan SETUJU, belum cocok anak kecil menyanyikan lagu cinta.. Miris, tak perlu disebutkan stasiun mana yang mendapat cercaan dari komuntias kita yang peduli dengan eprtumbuhan anak-anak—karena ajang bintang yang serupa kembali diadakan! Ironis.
Pengaruh zaman? Atau mencontoh dari apa yang ia lihat? Well, lagu anak-anak memang bisa dikatakan HAMPIR TIDAK ADA sekarang ini.
Mankzank. Itu komen di atas OoT bok. INTINYA, semua itu kembali pada lingkungan di sekitar anak-anak serta bimbingan orang-tua. Mereka mencontoh apa yang mereka lihat di depan mata
@Lockon Stratos (alm?):
Entahlah…
@dhez:
Iya, bener…
10 tahun yang lalu:
Anak-anak:
*nyanyi*
[...] saya panggilkan becak, kereta tak berkuda
becak, becak, coba bawa saya!
Sekarang:
*nyanyi*
[...] daradam, daradam. Hei!
Daradam, daradam. Hei!
Sama aja kasusnya kayak “Kamu ketauan.. pacaran lagi” yang sering dilantunin anak-anak.
Saya juga menyayangkan keadaan yang begini, terutama untuk lagu-lagu dan info yang diserap oleh otak si anak. Kalau saya sampai sekarang (dan beberapa teman saya) masih punya kenangan masa lalu tentang lagu anak yang ceria, saya jadi khawatir kenangan macam apa yang dipunya oleh anak-anak zaman sekarang dengan lagu yang begini.
Kok saya jadi OOT ya.
Maap.
Btw, beberapa orang menyalahkan anime atau kartun yang katanya memuat unsur kekerasan yang memotivasi (?) anak untuk melakukan tindakan serupa. Entah ada kaitannya atau tidak, dulu saya juga nonton Kamen Rider, Saint Seiya, Dragon Ball (ini wajip
), dan lain sebagainya, tapi tidak sampai termotivasi untuk melakukan rider kick atau membanting orang sampai mental tuh. 
Kalau begini sebenarnya apa lagi yang membuat anak zaman sekarang lebih agresif..?
Game berantem?
@Xaliber [1]:
Bahkan di acara Idola Cilik pun lagunya nggak ada yang sesuai dengan anak-anak.
Di sini, tiap kali pas adzan Maghrib sama Isya pasti anak-anak yang ngaji di masjid (pas banget deket rumah) bukannya diem, mereka malah nyanyi lagu cinta-cintaan keras-keras (kebayang, sambil lewat depan rumah, keliling kampung. Kurang goblok apa coba?). Pak Ustadz-nya nggak didengerin, saya jadi kasihan, adek saya sampai pengen nonjok anak-anak kecil itu tiap kali mereka dah lewat sambil nyanyi “Kamu ketahuan… pacaran lagi….”
@Xaliber [2]:
Nggak kok. Ngga OOT-OOT amat. Toh setidaknya masih membahas soal anak-anak
*ditimpuk*
Ah, iya. Kartun dan anime (juga game) hampir selalu menjadi kambing
jantanhitam soal kekerasan. Cuma nggak tau juga. Kalo menurut saya sih itu nonsense.Saya dan adek nonton Doraemon dari jaman masih balita, berulang kali melihat adegan Giant memukul Nobita (itu kan dah cukup disebut kekerasan, toh?). Buktinya saya nggak pernah sampai melakukan kekerasan gitu.
Jadi? Entahlah
Jangankan gitu… Adik gw juga suka mukulin gw ampe biru2 koq (Padahal adik gw cewe…)
Dan… kalo ga gosip-gosipnya kan nih web mistress juga ‘agak-agak-begitu’ yaa?
*Kabur sebelum ditimpuk keyboard*
@Ceru-Leen:
Asem kamuh, Fan.
*timpuk Fandrey pake tablet*
Wogh….

Saya punya adik cowok kecil baru level (umur) 5. Anaknya cengeng! Padahal badannya udah tinggi n gemuk! Tapi kelakuan masih kayak anak Balita. Setiap ada tukang mainan, pasti beli. Setiap ada tukang es, beli, de el el. Akhirnya saya putuskan, untuk mengajari hidup sebagai laki2 sejati! Dengan cara:
1. Tidak membelikan apapun meskipun dia nangis(kejam!).
2. Makan sayur yang banyak(emank enak!).
3. Harus Bangun tidur jam 05.30!
4. Tidur jam 22.30(ngantuk2 kau!).
5. de el el
Dan saya yakin! 5 atau 10 kedepan, dia menjadi lelaki sejati
seperti saya!*baru nyadar nama saya jadi Xaliber von Reginhil
*
@Cynanthia:
). IMO acara yang ada tokoh orangnya justru bisa lebih berperan, meskipun masih bukan berupa partisipasi aktif.
Kalau anime berhubung bukan partisipasi aktif seharusnya memang tidak mempengaruhi dengan banyak.. anak-anak hanya nonton, dan lagipula wujudnya animasi. Plus, kalau mau dikondisikan dengan anime sekarang, kebanyakan adegan aksi adalah adegan yang tak bisa dijangkau oleh anak-anak (siapa yang bisa kagebunshin dan melompat dari pohon?
Kalau game, mengingat itu partisipasi aktif, mungkin bisa lebih berperan dalam pribadi anak.
Terutama game-game yang tokohnya sudah mendekati real dan adegannya terjangkau oleh anak..
Tapi kayaknya sumber utamanya bukan itu deh.
@uChIrO™:
Itu sih jahat namanya
@Xaliber:
Kok bisa…. -__-”a
Tetap saja™ ada yang mau mencobanya, kan?
Kalau game ngga tau juga ya… mungkin game-game dewasa? Soalnya di sini kan rating bisa seenaknya dimanipulasi…