WARNING: Post tidak penting, seperti biasa. Jangan dianggap serius, oke? 
Salah satu cita-cita adik saya adalah menjadi Presiden. Entah kalau sekarang. Dan sewaktu menonton peringatan Hari Kebangkitan Nasional di TV tadi, ibu saya (kurang lebih) bilang gini ke adik saya.
Kalau mau jadi Presiden itu harus tahan…
- …berdiri di podium
- …salam-salaman
- …senyum
- …tanda tangan banyak
Dan pas ibu saya bilang bagian ’senyum’ itu, adik saya langsung manyun. 
2008 / 05 / 19 – 11:59 am
WARNING: Ini post ngaco dan tidak penting. Anda sudah diperingatkan.
*dimulai dengan seseorang yang memarahi rekannya karena tidak becus dalam mengerjakan tugas sekolah*
A: Kamu itu gimana sih?! Harusnya kan mengerjakannya begini caranya?! Dasar kamu itu memang bego!
B: Lha, sudah tahu saya ini bego, kok masih suruh saya untuk mengerjakan itu?!
Bagaimana pendapat Anda, dan kalau Anda menjadi si A dalam situasi seperti itu, apa yang akan Anda katakan dan lakukan? 
*terinspirasi dari kejadian nyata, saya pernah dengar dua orang bilang begini*
Oke, saya juga tahu kalau presiden dan wakil presiden Republik Indonesia itu adalah Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Bapak Jusuf Kalla. Tapi itu hanya secara appearance. Kenyataannya? 
Lanjut?
Nampaknya memang mental sebagian orang di Indonesia sudah rusak. Enak saja punya biaya cukup untuk pendidikan anak tapi nggak mau menyekolahkan anak!
Kalau yang menerima bantuan pendidikan memang tidak mampu, okelah. Tapi kalau ternyata yang menerimanya itu justru karena orangtua mereka tidak mau membiayai pendidikan mereka, akan jadi apa bangsa kita yang sudah hancur di mana-mana ini?!
Ada apa sebenarnya?!
By Cynanthia
|
Posted in Life, Thoughts
|
Tagged beasiswa, bodoh, BOS, budaya, Indonesia, kehidupan, kritik, masa depan, mental, opini, pemerintah, pendidikan, sarkasme, siswa, sosial, tolol
|
Based in True Remembrance visual novel.
“…this isn’t a very good answer, but… everyone’s a little different.
Some say you have to forget, or you won’t survive. Others say the opposite - that you have to remember.
I don’t think there’s one absolute right or wrong for any one person - each one of us makes a choice, somewhere, somehow. And once that choice is made - then we remember. Or we forget. It all depends…”
–Blackiris (True Remembrance, Chapter V: Good Girls Say Goodbye with a Smile)
2008 / 05 / 10 – 12:09 am
Note: Post ini agak ngaco. Meskipun begitu, saya harap Anda tidak tersinggung. 
Sebenarnya banyak sekali hasil karya bangsa Indonesia yang patut dibanggakan. Kalau kita rajin-rajin baca koran (dan lebih beruntung lagi kalau punya kerabat seorang peneliti), kita akan lihat betapa bangsa kita ini sebenarnya inovatif.
Lalu kenapa…?